Langsung ke konten utama

pelepas segala atau pemenjara segala?

Manusia tidak perlu harus serakah untuk menjalani kehidupannya. Tapi bagaimana jika malah tak memiliki satu pun? 

Melepas segala yang ada dan membiarkannya tanpa menggenggam satu pun juga terkadang menjadi musibah bagi manusia. Ia akan bersedih dan kesepian oleh ketidakadaan. 

Belajar dari cerita dua manusia yang melepas dan menggenggam erat semuanya menjadi sebuah renungan untuk diri saya sendiri. 

Cerita pertama datang dari seorang teman yang datang dengan senyum tipis namun miris. Ia akhinya tak bisa lagi membendung rasa menyesalnya setelah melewatkan segala yang pernah datang padanya. Dahulu ia termasuk seorang yang banyak mendatanginya, namun tak satupun ia hiraukan, tak satupun ia genggam, karena menurut pembelaannya, ia tak mau membuat yang datang terbelenggu oleh dirinya, ia ingin membebaskan semua jiwa yang ada. Ia ingin semua jiwa bebas, tanpa ikatan apapun, tanpa aturan apapun yang sengaja manusia ciptakan untuk membatasi manusia lain. namun kini, ia sadar atau malah menjadi tak sadar bahwa ada hal yang harus digenggam, harus dipenjarakan oleh jeruji yang kita buat sendiri untuk jiwa orang lain. terlambat. Saat ia mulai membangun jeruji itu, semua tak ada lagi. Semua pergi dan tak pernah datang lagi. 

Cerita kedua malah datang dari seorang teman dengan mata bengkak oleh tangis. Ia mengutuk dirinya sendiri yang serakah. Serakah… ia menamai dirinya serakah saat bercerita pada saya. Dari penuturannya, ia kehilangan segalanya karena keserakahan yang ada di dalam dirinya. Dahulu, ia membangun penjara yang sangat lapang di dalam dirinya. Ia memenjarakan segala yang datang padanya, termasuk jiwa manusia lain. ia ingin menguasai segalanya. Ia ingin memiliki segalanya. Meski lapang, penjara itu pun akhirnya sesak oleh segala sehingga jerujinya rusak dan terbukalah pintu untuk segala itu pergi. Pergi dan tak pernah datang kembali.

Kini keduanya tak memiliki apa-apa. Kini keduanya datang dengan cerita pilu. Saya hanya bisa mendengar kisah mereka dan tak ada saran apapun. Dan karena dari mereka ada pertanyaan besar untuk jiwa , apakah ia pelepas segala atau pemenjara segala?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia Ku Mengenal Kalian

Saat itu, saat kupertama bertemu kalian Kuberusaha mencari kata Untuk memulai sebuah kalimat Perkenalan Rasa malu, takut dan canggung Menjadi es di bibir Namun gelisah dan penasaran Membakar seluruh tubuh Kini tak ada lagi kata Sepi dan sendiri di dalam kamusku Kalian telah menjadi warna Yang mencerahkan hari-hariku Kebersamaan Adalah hal yang membuat Perkenalan tak sekedar sebuah Perkenalan Kebersamaan menjadi sungai Yang mengalirkan sejuta kata-kata Yang sempat terbendung Disebuah ketidaktahuan 13 November 2009

Tempat Wisata di Jepang

Ski emang indah dan menyenangkan. Apalagi saat bermain, salju turun begitu lebat, bagaikan kapas yang bertebrangan. Indah, putih nan lembut itulah salju yang saya rasakan saat bermain ski di Fujimi Nagano. banyak sekali tempat ski di negeri sakura ini salah satunya yang paling terkenal adalah di Fujimi Nagano, hampir setiap orang asing pasti menyempatkan datang ke tempat ini. Saya sendiri jarak yang jauh tidak menghalangi untuk datang bermain. walaupun sebenarnya yang lebih dekat tempat saya ada di daerah gifu atau di siga. Fujimi tepatnya di Nagano, jika anda berkesempatan ke negeri sakura ini, silahkan ke nagano dan cari fujimi station, dari situ ada bus yang menghantarkan ke area ski gratis, tapi jam tertentu, sebelum jam 10 saat berangkat. Dan pulang juga ada bus gratis jam 3 lebih 10 menit. Hanya sekitar 2 bus saat berangkat dan pulang ke fujimi station. Jadi usahakan pas jam-jam itu. Kalau tidak anda bisa naik taksi. Jarak yang lumayan jauh tidak mungkin di tempuh denga

Souka, Soudeska, & Soudesne.

Tadi belajar BJTM (Bahasa Jepang Terpadu Menengah).  Ada hal yang saya tangkap, yaitu perbedaan penggunaan SOUKA, SOUDESKA, dan SOUDESNE. Souka biasanya digunakan saat tiba-tiba mengingat sesuatu. Contohnya: ada teman yang sedang belajar, kamu datang dan bertanya “apa yang kamu lakukan?” teman menjawab “belajar, besok ada ujian.” Nah disinilah kamu akan mengatakan “souka!?!” dengen ekspresi mengingat sesuatu sambil memukul jidat. Soudeska biasanya digunakan untuk bertanya kembali guna meyakinkan diri sendiri. Contoh: kamu sedang berada dalam ruangan, tiba-tiba datang seorang teman dan berkata “di luar hujan deras.” Kamu akan berkata “soudeska?” dengan ekspresi wajah penuh tandatanya dan kaget. Bisa jadi kamu akan segera keluar ruangan untuk memastikan apakah hujan deras sungguhan atau tidak. Soudesne biasanya digunakan untuk menyatakan kesamaan pemahaman. contoh: kamu dan teman kamu berada di luar ruangan kemudian teman kamu berkata “cuaca cerah yaa...” kamu a