Langsung ke konten utama

Postingan

Renjana _ Yansa El-Qarni

Yansa El-Qarni Seorang penulis yang baru kali ini saya membaca karyanya yang dibukukan.  Sajaknya melulu tentang kerinduan dan kejujuran seorang yang memendam cinta. Hari ini, malam ini tepatnya. Sajak-sajak karya Yansa El-Qarni ini menemani saya menghabiskan dinginnya malam di bandara Soekarno-Hatta Jkrt. Saya tekejut mendapati gaya dan bahasa tulisannya. Rasanya tidak jauh berbeda dari tulisan-tulisan saya. Saya merasa ada kesamaan yang nyata. Pernyataan pernyataan ketidakmampuan memendam cinta dan ketidakbadilan rasa rindu.  Sepertinya dia masih jomblo! 😂

Senja bersama Rosie

Sebuah karya dari TereLiye namun di novel ini namanya masih Darwis Darwis. Adalah Tegar Karang seorang pemuda yang lahir dan tumbuh di Gili Trawangan, Lombok. Dia memiliki seorang sahabat sejak kecil bernama Rosie. Setiap hari bersama, semua masa kecil mereka lewati berdua. Kebersamaan bisa menumbuhkan rasa suka bahkan cinta. Dan itu pulalah yang dialami Tegar. Ia jatuh cinta pada Rosie. Ia memendamnya selama ini hingga ia memutuskan untuk mengatakannya di puncak Rinjani kala mereka mendaki bersama. Namun apa dikata, ia terlambat beberapa langkah saja. Saat hendak tiba di puncak Rinjani, Tegar harus menyaksikan pujaan hatinya direbut oleh sahabatnya sendiri, Dani. Dani lebih dahulu mengutarakan cinta pada Rosie. Dua puluh tahun Tegar luluh lantah dikalahkan oleh dua bulan Dani. Tegar sendirilah yang dua bulan lalu memperkenalkan Dani pada Rosie. Namun tanpa Tegar duga ternyata diantara meraka tumbuh beni cinta. Kenyataan pahit itu membuat Tegar memilih untuk menghila...

Eliana, Pukat, Burlian, & Amelia

Untuk Tere Liye, Terima kasih sudah menghadirkan Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Keempat saudara itu sedikit banyak telah merubah pemikiran saya yang dulunya sempit. Pelajaran-pelajaran berharga, nasehat serta renungan-renungan yang datang dari cerita mereka membuat saya belajar banyak tanpa merasa digurui. Jujur saya membaca novel ini bukan dari membeli sendiri tapi dipinjamkan oleh teman –yang baik hati dan juga pengoleksi novel Tere Liye. Seperti biasanya sebelum membaca novel saya pasti bertanya apa ini bagus, ceritanya menarik atau tidak dan blablabla… sampai akhirnya teman saya menyarankan membaca serial mamak ini. Melihat judulnya, saya mulai bertanya ini itu pada teman saya dan ya akhirnya saya memutuskan membaca Amelia terlebih dahulu, kenapa? Ya… karena Amelia anak bungsu, seperti saya.  Dari novel Amelia, saya merenungi banyak hal. Saya merasa sangat beruntung membaca cerita Amelia. Bahkan ada beberapa bagian cerita –yang meskipun tidak sedih, mem...

Menunggu Rumah

Novel Amelia yang ditulis oleh TereLiye membuat saya merenung, menangis lalu berfikir. Novel ini bukan novel sedih, sama sekali tidak. Novel ini hanya bercerita tentang keseharian seorang anak yang bernama Amelia. Dia anak bungsu. Ya disitu permasalahannya. Dia anak bungsu. Sama seperti saya yang juga anak bungsu.  Di sana, dalam ceritanya, dia, Amelia, selalu merasa risih jika kakak-kakaknya menjahilinya dengan cara menyebutnya sebagi si "penunggu rumah". "Penunggu rumah" maksud yang saya tangkap dari novel itu adalah seseorang yang tak bisa pergi jauh, hanya boleh tinggal di rumah saja. Mungkin saya salah tangkap, atau apalah yang pasti itu yang saya paham. Lalu? Yaaa... Saya anak bungsu, dan saya rasa saat ini saya jadi si "penunggu rumah". Padahal jiwa saya, hati saya sudah jauh bertualang, tinggal raga saya saja di sini, di rumah, di kampung halaman. Bukan, bukan maksud saya tak mau tinggal bersama orangtua, bukan bukan begitu. Anak mana...

Ada rindu yang kukirim dalam doa

Aku mengirim rindu Mengirimnya kepada seseorang yang tak kutahu bagaimana raut wajahnya, sesorang yang tak kutahu di mana ia kini berada Aku mengirim rindu Mengirimnya kepada pemilik hati yang Allah pilihkan untuk hatiku Dan aku mengirim doa Semoga hamparan sejadahnya semakin didekatkan pada hamparan sejadahku

Cinta di dalam Gelas

Ini bukan tentang novel karya Andrea Hirata namun ya memang tulisan ini terinspirasi dari novel tersebut. Ada. Ada cinta di dalam gelas. Ia berwujud kopi atau teh yang diseduh dengan segenap hati dan disuguhkan untuk yang terkasih. Bicara tentang kopi dan teh, di sinisaya tidak ingin mengajari anda bagaimana menakar mereka bersama gula dalam sebuah gelas. Tidak. Bukan itu. Saya hanya ingin berbagi harapan-harapan saya tentang masa depan yang tentu saja kita tahu bersama kalau masa depan itu dirahasiakan Tuhan bahkan sedetik kemudian pun kita tak boleh tahu rasahasia itu. Biarlah Tuhan membuatnya menjadi sebuah kejutan. Ya namanya juga harapan, kita bebas mengharapkannya, terwujud atau tidak harapan kita ya lihat nanti. Saya teringat dengan sebuah status teman saya di sebuah media sosial. Katanya begini “ sebesar apa kita boleh berharap? – sebesar kita mampu menanggung kecewa ” Sebenarnya harapan saya tak muluk-muluk, saya hanya berharap suatu hari nanti saya bisa b...

pelepas segala atau pemenjara segala?

Manusia tidak perlu harus serakah untuk menjalani kehidupannya. Tapi bagaimana jika malah tak memiliki satu pun?  Melepas segala yang ada dan membiarkannya tanpa menggenggam satu pun juga terkadang menjadi musibah bagi manusia. Ia akan bersedih dan kesepian oleh ketidakadaan.  Belajar dari cerita dua manusia yang melepas dan menggenggam erat semuanya menjadi sebuah renungan untuk diri saya sendiri.  Cerita pertama datang dari seorang teman yang datang dengan senyum tipis namun miris. Ia akhinya tak bisa lagi membendung rasa menyesalnya setelah melewatkan segala yang pernah datang padanya. Dahulu ia termasuk seorang yang banyak mendatanginya, namun tak satupun ia hiraukan, tak satupun ia genggam, karena menurut pembelaannya, ia tak mau membuat yang datang terbelenggu oleh dirinya, ia ingin membebaskan semua jiwa yang ada. Ia ingin semua jiwa bebas, tanpa ikatan apapun, tanpa aturan apapun yang sengaja manusia ciptakan untuk membatasi manusia lain. namun ...