Langsung ke konten utama

Postingan

Eliana, Pukat, Burlian, & Amelia

Untuk Tere Liye, Terima kasih sudah menghadirkan Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Keempat saudara itu sedikit banyak telah merubah pemikiran saya yang dulunya sempit. Pelajaran-pelajaran berharga, nasehat serta renungan-renungan yang datang dari cerita mereka membuat saya belajar banyak tanpa merasa digurui. Jujur saya membaca novel ini bukan dari membeli sendiri tapi dipinjamkan oleh teman –yang baik hati dan juga pengoleksi novel Tere Liye. Seperti biasanya sebelum membaca novel saya pasti bertanya apa ini bagus, ceritanya menarik atau tidak dan blablabla… sampai akhirnya teman saya menyarankan membaca serial mamak ini. Melihat judulnya, saya mulai bertanya ini itu pada teman saya dan ya akhirnya saya memutuskan membaca Amelia terlebih dahulu, kenapa? Ya… karena Amelia anak bungsu, seperti saya.  Dari novel Amelia, saya merenungi banyak hal. Saya merasa sangat beruntung membaca cerita Amelia. Bahkan ada beberapa bagian cerita –yang meskipun tidak sedih, mem...

Menunggu Rumah

Novel Amelia yang ditulis oleh TereLiye membuat saya merenung, menangis lalu berfikir. Novel ini bukan novel sedih, sama sekali tidak. Novel ini hanya bercerita tentang keseharian seorang anak yang bernama Amelia. Dia anak bungsu. Ya disitu permasalahannya. Dia anak bungsu. Sama seperti saya yang juga anak bungsu.  Di sana, dalam ceritanya, dia, Amelia, selalu merasa risih jika kakak-kakaknya menjahilinya dengan cara menyebutnya sebagi si "penunggu rumah". "Penunggu rumah" maksud yang saya tangkap dari novel itu adalah seseorang yang tak bisa pergi jauh, hanya boleh tinggal di rumah saja. Mungkin saya salah tangkap, atau apalah yang pasti itu yang saya paham. Lalu? Yaaa... Saya anak bungsu, dan saya rasa saat ini saya jadi si "penunggu rumah". Padahal jiwa saya, hati saya sudah jauh bertualang, tinggal raga saya saja di sini, di rumah, di kampung halaman. Bukan, bukan maksud saya tak mau tinggal bersama orangtua, bukan bukan begitu. Anak mana...

Ada rindu yang kukirim dalam doa

Aku mengirim rindu Mengirimnya kepada seseorang yang tak kutahu bagaimana raut wajahnya, sesorang yang tak kutahu di mana ia kini berada Aku mengirim rindu Mengirimnya kepada pemilik hati yang Allah pilihkan untuk hatiku Dan aku mengirim doa Semoga hamparan sejadahnya semakin didekatkan pada hamparan sejadahku

Cinta di dalam Gelas

Ini bukan tentang novel karya Andrea Hirata namun ya memang tulisan ini terinspirasi dari novel tersebut. Ada. Ada cinta di dalam gelas. Ia berwujud kopi atau teh yang diseduh dengan segenap hati dan disuguhkan untuk yang terkasih. Bicara tentang kopi dan teh, di sinisaya tidak ingin mengajari anda bagaimana menakar mereka bersama gula dalam sebuah gelas. Tidak. Bukan itu. Saya hanya ingin berbagi harapan-harapan saya tentang masa depan yang tentu saja kita tahu bersama kalau masa depan itu dirahasiakan Tuhan bahkan sedetik kemudian pun kita tak boleh tahu rasahasia itu. Biarlah Tuhan membuatnya menjadi sebuah kejutan. Ya namanya juga harapan, kita bebas mengharapkannya, terwujud atau tidak harapan kita ya lihat nanti. Saya teringat dengan sebuah status teman saya di sebuah media sosial. Katanya begini “ sebesar apa kita boleh berharap? – sebesar kita mampu menanggung kecewa ” Sebenarnya harapan saya tak muluk-muluk, saya hanya berharap suatu hari nanti saya bisa b...

pelepas segala atau pemenjara segala?

Manusia tidak perlu harus serakah untuk menjalani kehidupannya. Tapi bagaimana jika malah tak memiliki satu pun?  Melepas segala yang ada dan membiarkannya tanpa menggenggam satu pun juga terkadang menjadi musibah bagi manusia. Ia akan bersedih dan kesepian oleh ketidakadaan.  Belajar dari cerita dua manusia yang melepas dan menggenggam erat semuanya menjadi sebuah renungan untuk diri saya sendiri.  Cerita pertama datang dari seorang teman yang datang dengan senyum tipis namun miris. Ia akhinya tak bisa lagi membendung rasa menyesalnya setelah melewatkan segala yang pernah datang padanya. Dahulu ia termasuk seorang yang banyak mendatanginya, namun tak satupun ia hiraukan, tak satupun ia genggam, karena menurut pembelaannya, ia tak mau membuat yang datang terbelenggu oleh dirinya, ia ingin membebaskan semua jiwa yang ada. Ia ingin semua jiwa bebas, tanpa ikatan apapun, tanpa aturan apapun yang sengaja manusia ciptakan untuk membatasi manusia lain. namun ...

Tidak Ada yang Benar-benar Baru dalam Ingatan Saya

Aku berimajinasi, menemukan sebuah peradaban yang melampaui daya fikir manusia zaman sekarang. Sebuah kehidupan yang tak pernah terlintas dibenak manusia manapun di muka bumi ini sejak zaman batu hingga zaman maya yang menyerang kehidupan sosial remaja masa kini. Tidak ada cara lain selain kapsul waktu yang sering digunakan tokoh anime-anime, aku juga berimajinasi menggunkan kapsul itu. Meminum atau masuk ke dalam kapsul itu, aku belum memikirkannya, tapi bagiku satu satunya cara untuk mencapai peradaban yang akan kutemukan itu adalah dengan menggunakan kapsul waktu. apa yang akan aku lakukan di peradaban itu? Aku juga belum memikirkannya, yang ada dibenakku saat ini hanya menemukan peradapan itu. Waktuku dimulai detik ini, kapsul. Aku harus bertemu kapsul waktu. Dipertemukan, menemukan atau ditemukan semua bagiku sama saja, yang penting aku bisa menggunakan kapsul itu. Enam hari kemudian, entah itu keajaiban atau memang karena usaha kerasku, aku menyentuh kapsul itu, kugunaka...