Langsung ke konten utama

Postingan

Cinta di dalam Gelas

Ini bukan tentang novel karya Andrea Hirata namun ya memang tulisan ini terinspirasi dari novel tersebut. Ada. Ada cinta di dalam gelas. Ia berwujud kopi atau teh yang diseduh dengan segenap hati dan disuguhkan untuk yang terkasih. Bicara tentang kopi dan teh, di sinisaya tidak ingin mengajari anda bagaimana menakar mereka bersama gula dalam sebuah gelas. Tidak. Bukan itu. Saya hanya ingin berbagi harapan-harapan saya tentang masa depan yang tentu saja kita tahu bersama kalau masa depan itu dirahasiakan Tuhan bahkan sedetik kemudian pun kita tak boleh tahu rasahasia itu. Biarlah Tuhan membuatnya menjadi sebuah kejutan. Ya namanya juga harapan, kita bebas mengharapkannya, terwujud atau tidak harapan kita ya lihat nanti. Saya teringat dengan sebuah status teman saya di sebuah media sosial. Katanya begini “ sebesar apa kita boleh berharap? – sebesar kita mampu menanggung kecewa ” Sebenarnya harapan saya tak muluk-muluk, saya hanya berharap suatu hari nanti saya bisa b...

pelepas segala atau pemenjara segala?

Manusia tidak perlu harus serakah untuk menjalani kehidupannya. Tapi bagaimana jika malah tak memiliki satu pun?  Melepas segala yang ada dan membiarkannya tanpa menggenggam satu pun juga terkadang menjadi musibah bagi manusia. Ia akan bersedih dan kesepian oleh ketidakadaan.  Belajar dari cerita dua manusia yang melepas dan menggenggam erat semuanya menjadi sebuah renungan untuk diri saya sendiri.  Cerita pertama datang dari seorang teman yang datang dengan senyum tipis namun miris. Ia akhinya tak bisa lagi membendung rasa menyesalnya setelah melewatkan segala yang pernah datang padanya. Dahulu ia termasuk seorang yang banyak mendatanginya, namun tak satupun ia hiraukan, tak satupun ia genggam, karena menurut pembelaannya, ia tak mau membuat yang datang terbelenggu oleh dirinya, ia ingin membebaskan semua jiwa yang ada. Ia ingin semua jiwa bebas, tanpa ikatan apapun, tanpa aturan apapun yang sengaja manusia ciptakan untuk membatasi manusia lain. namun ...

Tidak Ada yang Benar-benar Baru dalam Ingatan Saya

Aku berimajinasi, menemukan sebuah peradaban yang melampaui daya fikir manusia zaman sekarang. Sebuah kehidupan yang tak pernah terlintas dibenak manusia manapun di muka bumi ini sejak zaman batu hingga zaman maya yang menyerang kehidupan sosial remaja masa kini. Tidak ada cara lain selain kapsul waktu yang sering digunakan tokoh anime-anime, aku juga berimajinasi menggunkan kapsul itu. Meminum atau masuk ke dalam kapsul itu, aku belum memikirkannya, tapi bagiku satu satunya cara untuk mencapai peradaban yang akan kutemukan itu adalah dengan menggunakan kapsul waktu. apa yang akan aku lakukan di peradaban itu? Aku juga belum memikirkannya, yang ada dibenakku saat ini hanya menemukan peradapan itu. Waktuku dimulai detik ini, kapsul. Aku harus bertemu kapsul waktu. Dipertemukan, menemukan atau ditemukan semua bagiku sama saja, yang penting aku bisa menggunakan kapsul itu. Enam hari kemudian, entah itu keajaiban atau memang karena usaha kerasku, aku menyentuh kapsul itu, kugunaka...

Rabu

“Besok hari Rabu. Jika ini hari terakhirku, Rabu akan menjadi hari favoritku.” --- kutipan dari salah satu sajak Aan Mansyur dalam bukunya ‘Melihat Api Bekerja’ Tidak, tidak mungkin aku menghianati hari Kamis. Aku tetap mencintai hari Kamis lebih dari hari manapun. Jadi jangan beranggapan kalau aku akan berkhianat. Tapi untuk kali ini, dalam tulisan ini, aku ingin mengunggapkan rasa kagumku pada Rabu. Tepat seminggu yang lalu, di hari Rabu, aku menerima begitu banyak kejutan, –kau tahu kan aku menyukai kejutan. Eh, tidak, ini lebih dari kejutan, ini hadiah dari Tuhan. Tuhan menghadiahkanku begitu banyak hal baru di hari Rabu seminggu yang lalu.

Batu Dinding Balikpapan

Ngetrip itu seperti candu, bikin ketagihan setengah mati. Aku paling semangat kalau dengar kalimat "yok, jalan-jalan yok!" hahahaha.. aku memang ketagihan jalan-jalan. apalagi kalau destinasinya alam. wiihhh aku paling suka tuh ke tempat yang masih alami banget. suka juga sih ke tempat yang udah ada sentuhan modern-nya tapi tetep harus ada unsur alamnya.hhhh minggu kemarin, aku ke batu dinding balikpapan. wiihhh keren banget!tapi yaa segala sesuatu butuh pengorbanan guys. untuk sampai di sana, harus menempuh berpuluh-puluh kilometer menggunakan kendaraan, terus disambung berkilo-kilo jalan kaki sambil mendaki. Tapi yakinlah, semua lelahmu bakalan terbayar pas sampai di sana. Batu dinding Balikpapan, bisa kubilang layaknya tembok besar china. tapi ini belum tersentuh modernisasi. masih alami banget.  saran: - kalau mau ke sana, usahakan olahraga ringan sebelumnya agar fisik bisa tahan. - kalau mau timing yang bagus, datang pas sunrise, kalau startnya dar...

Bisu

Aku ingin bercerita padamu Tentang apapun yang kualami Tentang semua yang  kulihat Aku ingin bercerita padamu Tentang langit sore ini Awan dan warna jingganya Aku ingin bercerita padamu Tentang kicauan burung Suaranya sungguh merdu Aku ingin bercerita padamu Tentang anak kecil dipinggir jalan Mereka tertawa lepas tanpa beban Aku ingin bercerita padamu Apapun itu Tapi aku bisu, sayang *puisi ini juga bisa anda temukan di buku kumpulan puisi  Malaikat Tanpa Sayap