Beberapa hari yang lalu, saya bertemu seseorang dan melakukan beberapa percakapan ringan. Hingga akhirnya ia cerita tentang orang lain (bisa dibilang kami bergosip…pliss jangan hujat kami. 🙏😆). Panjang ceritanya, tapi inti dari cerita tersebut yang kutangkap adalah : seseorang yang tidak tahu balas budi, atau bisa dibilang melupakan kebaikan orang lain.
Di malam hari, saya merenung tentang kebaikan. Banyak hal yang berkecamuk di benak saya. Sampai-sampai bertanya ke diri sendiri, apakah saya sudah melakukan hal baik yang memang benar-benar baik?
Ada beberapa hal yang kutanyakan pada diri sendiri yang menjadi beban di kepala hingga pagi ini, hingga saya menulis tulisan ini. Kenapa saya berbuat baik kepada orang lain? Apakah memang kebaikan yang saya berikan itu benar-benar tulus, atau jangan-jangan ada rasa ingin dibalas dengan kebaikan pula?
Sebagai manusia biasa, ada kalanya kita memberikan kebaikan kepada orang lain, lalu bagaimana jika orang yang saya berikan kebaikan, malah tidak baik pada saya? Bagaimana respon saya? Apakah saya akan marah? Mengingat beberapa kejadian lalu, entah itu kemarin, minggu lalu, bahkan beberapa tahun lalu, respon saya pasti marah. Saya merasa tidak dihargai. Merasa kebaikan yang saya berikan sia-sia. Mungkin beberapa dari kalian yang rutin membaca tulisan saya entah itu di blog ini atau di Instagram saya, kadang ada postingan saya yang marah-marah karena merasa tidak dihargai padahal saya sudah sangat baik ke orang tersebut.
Masalah ini lah yang memunculkan tulisan ini. Fikiran saya berkecamuk antara logika dan perasaan. Sometimes menyadarkan diri bahwa kebaikan yang saya berikan tidak perlu diungkit lagi, but sometimes ingin rasanya kujitak kepala orang yang sok belagu tak mau melihat saya lagi padahal dulu saya bantu dia dengan segenap hati. Duh! Jujur, kumanusia jaaaauuhh dari predikat ‘baik’ tapi dengan beraninya menulis tentang kebaikan itu sendiri. Hahahaha
Huuffttt berat!
Eh, kalian tipe yang mana? Memberi kebaikan lalu menunggu diberi kebaikan kembali atau melakukan kebaikan dengan tulus tanpa menunggu balasan. Harusnya yang kedua kan ya? Tapi, sekali lagi sebagai manusia biasa, kadang kita haus bantuan orang lain, kadang kita haus validasi bahwa kita tuh pernah bantu kamu, kok kamu tidak peduli lagi sih sama kita!!! Gitu kan? Hahaha
Contoh simpelnya, dulu waktu kamu tidak punya apa-apa, kamu tuh sering minjam sama saya, terus tidak jarang saya belikan ini itu untuk kamu. Tapi sekarang di saat kamu sudah jaya, sudah kaya raya, kok kamu lupa sama saya. Jangankan transfer, traktir di warung kaki lima pun kamu tidak pernah ajak saya. Gitu kan kebanyakan dari kita.
Please tell me, bagaimana caranya agar kebaikan yang pernah saya lakukan dahulu tidak kuungkit lagi di masa kini.
Iya, tahu, agama sudah mengajarkan kita agar melakukan kebaikan tanpa menunggu balasan kebaikan dari orang yang kita beri kebaikan, biar Tuhan yang membalas semuanya. Tapi… (duh, ngeyel banget ya sayaaa pakai tapi lagi padahal ini sudah agama loh.) Tapi jujur kan ya, kita tuh meski tahu teorinya tapi dalam pengaplikasiannya susah sekaliii… So, kontak me ajak ngobrol or chat me ‘how to be a good person in real’. Bukan karena ada maunya.
Saya tiba-tiba takut sama ‘kebaikan’ itu sendiri. Apakah dengan melakukan kebaikan saya bisa selamat atau malah jadi racun untuk diri sendiri. Kenapa saya mengatakan racun? Karena bisa jadi nanti di hari esok saya dengan hati dengki melihat orang lain yang pernah saya beri kebaikan.
Mendapat kebaikan pun sama, saya takut jika menerima kebaikan hari ini, di kemudian hari orang yang memberi saya kebaikan tersebut bercerita ke orang lain bagaimana saya lupa akan kebaikan orang tersebut, tidak bisa membalas budi, atau hal lainnya yang seharusnya saya berikan namun tidak saya lakukan.
Aahh… pusing, mau sampai kapan saya memikirkan ini semua hahaha
Lebih baik apa? Lebih baik yuk tebar kebaikan, wkwkwkwkw endingnya ><

Komentar
Posting Komentar