Langsung ke konten utama

Postingan

Permainan Waktu Kecil

Seperti biasa, aktifitas keseharianku, berangkat kampus ditemani Shiro -motorku. Sepanjang jalan aku banyak bernyanyi, hahaha yaa menghibur diri...  Dan dipertengahan perjalanan, aku mendapati diriku menyanyikan salah satu lagu yang sudah sejak dulu tidak pernah kunyanyikan. Aku tersenyum-senyum saat menyanyikannya, banyak hal yang kembali terputar di otakku saat menyanyikannya, tentang teman kecilku, tentang diriku yang tak mau kalah, dan semua hal di masa kecil. Yaaa.. lagu itu lagu saat aku kecil, dan aku yakin semua anak kecil saat itu menghafalnya (aku tidak yakin anak kecil sekarang menghafal lagu itu, bahkan mungkin untuk sekedar tahu saja, banyak dantara mereka yang tidak tahu). Lagu apakah gerangan? pasti kalian penasaran, kan? hahahahah ok ok ok... ini lagunya...

H U J A N

Meresap hingga ke tulang, sensasi dinginnya, sungguh membuatku tersenyum-senyum geli... ^^ Hujan, otakku membentuk kata itu saat pandangan kuarahkan ke jendela di tengah-tengah perkuliahan.Kurasakan ujung-ujung bibirku tertarik ke samping, aku tersenyum, akhirnya aku dan hujan bertemu.

Namanya Boro

namanya Boro, hampir setiap hari dia menemaniku, melekat riang di pundak kananku. aku sangat menyukainya, meskipun di kotak aksesorisku banyak yang lain, tapi aku selalu memilih Boro. eh aku belum memperkenalkan Boro ya... Boro adalah Bros yang kupakai sebagai penghias jilbabku. yaaa seperti bros-bros lain yang sering kita jumpai di jilbab para muslimah.

Apakah ini Cerpen, atau hanya sebuah Percakapan?

             “Aku ingin bicara banyak hal padamu.” “ Bicara saja .”             “Tapi aku tidak tahu harus memulai darimana. Kau tahu aku kan, aku tidak tahu bicara.” “ Hahah..katamu tidak tahu bicara, lalu sekarang ini kau sedang apa namanya? ”             “Maksudku…” “ Iya…iya aku tahu. Kau mau bicara apa? ”             “Aku seperti dihindari” “ Maksudnya?”             “Iya, aku merasa dihindari oleh teman-temanku.”

Pagi ini aku ingin kembali ke masa Kanak-kanak

akhirnya tugas kuliah untuk hari ini selesai juga.... yeeeeee.....  Aku meregangkan badan sambil melirik jam dinding, "Wah sudah jam setengah delapan pagi," matahari sudah sangat tinggi ternyata. Seharusnya aku bergegas mandi lalu berangkat kampus, tapi karena masih betah maen laptop, yaaa biginilah hasilnya --> bercerita ria dia blog alias nulis. hohohohoho.. Tapi sebelum nulis, aku mengunjungi sejumlah rumah kata dari berbagai penulis, motivasi serta semangat banyak kucuri dari sana. ^^ aku tidak ingin bercerita panjang lebar mengenai blog para penulis yan rutin kukunjungi, tapi aku ingin sedikit berbagi fikiran yang tiba-tiba terlintas di benakku sesaat setelah tugas kuliah kurampungkan. Kuliah, apapun yang terlintas dibenakmu saat mendengar kata itu yang pasti aku sudah terdoktrin kalau mendengar kata kuliah itu pasti yang ada di benakku, dewasa.

Takut dan menulis

pagi ini, sebelum ke kampus aku menyuruh diriku untuk menulis. yaaa menulis, tentang apapun, yang penting menulis. meskipun dalam menulis aku sesekali menaikkan pandangan ke arah jam dinding -sekarang sudah pukul enam lewat, dan aku belum siap-siap ke kampus-. aku menulis karena dihinggapi rasa takut karena sebenanya tugas kuliahku belum selesai. apa hubungannya? ada. karena dengan menulis aku merasa tenang, bebas dan tak perlu memikirkan hal yang membuatku takut. aku menulis untuk pelampiasan perasaanku, hanya itu.

Kebodohan dan Pelajaran

Bagaimana caranya kau mengerti orang lain, kalau dirimu sendiri tidak bisa kau mengerti. Seharian mengganggu ketenangan om @hurufkecil membuatku banyak berfikir malamnya. Selain mendapati kalau ternyata banyak hal bodoh yang kulakukan, aku juga banyak belajar darinya. Karena aku tahu dia malas untuk bicara banyak, jadi aku berusaha mencari kalimat untuk mengundang suaranya, tapi karena aku juga kurang memiliki kemampuan dalam berbicara –sejak kecil, aku takut bicara banyak, makanya hingga kini aku tak jago beretorika- jadinya banyak hal-hal yang keluar dari bibirku yang berwujud suara sangat tidak berhubungan dengan apa yang terjadi. Aku kadang tidak berfikir dalam mengeluarkan suara, aku berbicaraa begitu saja hingga saat akhir suara itu aku tahu kalau aku salah, sangat salah. Salah satu kebodohanku. Menceritakan masalah-masalah yang kuhadapi di pagi kemarin dan kemarin dari kemarin, serta kemarin, lagi dan lagi kemarin. Hanya membuatnya pusing. Salah dua kebodohanku. ...