Langsung ke konten utama

Postingan

Dia yang Kuanggap

dunia terasa berubah detik itu ada tatap, senyum dan ucap syukur untuk-Mu yang memberiku waktu mempertemukan aku dengan dia yang kuanggap ragu sempat membekukanku namun sapa itu mencairkannya hingga kukumpulkan keberanian untuk dia yang kuanggap ada kala aku terdiam bahkan kata tak berani melawan pesonanya pesona dia yang kuanggap sudut mata tak bisa kukuasai ia terus mencari sosok sosok yang kuanggap ketakutan menjalar saat matanya menangkap sudut mataku aku takut ia tahu ada rasa rasa untuk dia yang kuanggap entah setelah itu Engkau masih memberiku waktu waktu untuk bertatap, tersenyum dan berucap waktu untuk dia yang kuanggap -iLa-

Penghilang Penat versi ILa

gambar-gambar ini lahir saat kuliah berlangsung... dan seperti biasanya, tak ada gambar lain yg kubisa selain gambar pohon yg dipenuhi ranting-ranting...hahahha gambar ini bukan hasil dari tanganku saja yang bekerja, banyak campur tangan teman-teman sekelasku... (mungkin mereka juga sedang bosan saat kuliah jadi ikut-ikutan mencoret-coret kertas...hahaha dasar mahasiswa...^^) Add caption

Alamat yang Hilang

Sebuah surat kutujukan padamu Namun hingga detik ini aku tak tahu alamatmu Telah kutanya semuanya Pada burung di angkasa Pada semut di tanah Namun tak satupun tahu keberadaanmu Lelah kumencari Langkah kaki terasa berat Kemana lagi surat ini harus kubawa Dimanakah rumahmu? Rumah yang telah menampung jiwa dan ragamu Rumah yang harus kualamatkan surat ini Atau kau telah memberiku alamat yang salah, Tapi mengapa? Aku hanya ingin mengirimimu surat Sebuah surat yang alamatnya hilang -iLa-

Supernova

        Saat merenung dan memikirkan langit, saya tiba-tiba teringat supernova. Segera saya tanyakan pada dia. Dia yang menurutku pasti bisa menangkap apa sebenarnya maksud pertanyaanku. Dan tepat, dia seperti telah membaca pikiranku yang berbasa-basi tentang supernova dan langit namun sebenarnya berfikir tentang manusia dan akhir dari manusia itu sendiri. Aku : Supernova itu apa? Dia : Ledakan bintang, kenapa? Aku : Kasian bintangnya. Dia : kenapa kasian? Memang sunnatullahnya begitu. Aku : Matahari juga bakalan begitu? Dia : Iya, kalau tidak padam, dia meledak. Aku : Deh... ngeri... buat apa jadi bintang kalau akhirnya meledak, hilang... (Dia tidak menjawabnya, dia malah bilang...) Dia : Buat apa jadi manusia kalau akhirnya meningg al.           Dan setelah percakapan itu, aku merenung kembali. Bukan...bukan merenung, tepatnya bertanya pada diriku sendiri. Buat apa aku h...

Pimnas in camera ^^

aku ingin berbagi sedikit gambar-gambar waktu Pimnas XXIV di UNHAS. tapi gambar disini cuma yang pake almamater aja, supaya kelihatan keren gitu...hahaha mohon maaf kalau ada yang gak mau di share gambarnya tapi ada disini, mohon maaf juga kalau ternyata tertangkap oleh lensa kameraku tapi gak ada disini... *kalau memang merasa gambarmu harus ada disini, hubungi layanan telephon di kontak Hp-mu yang namanya adalah namaku, atau coment di status terbaruku di facebook or twitter...#ngasal...hahaha* dari kiri ke kanan Tri (LO pendamping Universitas Indonesia) Muly (LO pendamping Universitas Halueleo) ILa (LO pendamping Universitas Gajah Mada) Iin (LO registrasi, yg kemudian membantu saya menjadi pendamping UGM) ini dia robot-robot manusia yang nawarin foto-foto.... hehehehe empat foto diatas bareng teman-teman dari UGM ini bareng teman dari UGM juga, tapi lengkap dengan product yang mereka ikut sertakan dalam pimnas. aku dan muly foto sam...

Tara... Aku Iri..!

Ini sebenarnya sebuah surat yang kutujukan untuk Tara Dupont, salah satu tokoh dalam novel Autumn in Paris karya ILana Tan. Di Fp-nya Ilana tan, ada sayembara menulis surat untuk tokoh-tokoh dalam novelnya, baik itu Summer in Seoul, Winter in Tokyo, Autumn in Paris ataupun Spring in London. tapi aku memilih mengirimkan surat ke salah satu tokoh di Autumn in Paris... mungkin karena aku telah jatuh hati dengan cerita yang ada di dalamnya, bagaimana tidak, ILana Tan mengalirkan ceritanya dengan sangat indah... -aku jadi iri- makanya surat ini berjudul "Tara...Aku Iri..!" Hai Tara... Aku tak tahu harus berkata apa untuk memulai sebuah surat, jadi aku hanya bisa berkata “Apa kabar dirimu disana, Tara?” Semoga baik saja, dan selalu dalam lindunganNya. Mungkin surat ini menyita waktumu untuk sekedar membacanya, tapi aku ingin kau tahu apa yang kurasakan saat membaca kisah-kisah hidupmu bersama orang-orang yang kau sayangi dan menyayangimu. Tara... aku iri padamu... Betapapun ...

Mau tahu siapa ILa? baca ini ^^

tulisan ini sebenarnya tugas kuliahku dulu, tepatnya mata kuliah filsafat. dulu kami ditugaskan untuk menulis sejauh mana kita mengenal diri kita sendiri, dan sejauh inilah saya mengenal diriku sendiri... meski tugas kuliah tapi tak apalah ku posting di sini... hehehe Saya diciptakan di dunia ini sebagai makhluk hidup yang berakal, dan dari golongan hawa. Sebagai makhluk sosial, saya sangat bergantung pada sesama, terutama pada keluarga saya. Namun tak jarang pula saya lebih suka menyendiri, jauh dari kebisingan. Saya terlahir sebagai anak bungsu, karena itulah sifat saya agak manja dan keras kepala. Mungkin karena sifat itu saya sering dipanggi sebagai anak mami. Namun meskipun saya sangat manja, saya sudah hidup terpisah dengan orangtua sejak umur 16 tahun, dan belajar hidup mandiri. Sifat saya yang sangat dominan adalah pemalu, saya sangat tidak bisa tampil di depan umum, bahkan saat SMP dan SMA saya sangat benci pelajaran yang mengharuskan tampil di depan kelas untuk berbic...